Thursday, 20 September 2012

Redha Allah Itu Datangnya Dari Redha Ibu Bapa

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” ( Q.S Al Isro: 23)

Dalam hadits Rasulullah S.A.W, beliau bersabda “Tangisan kedua orangtua termasuk kedurhakaan yang besar” (HR.Bukhori)

ada sebuah kisah cinta dua anak manusia. Ia pernah mencintai seorang pemuda. Pemuda yang sudah sangat lama ia cintai dalam diamnya. Pemuda yang menurutnya baik agama dan akhlaknya. Pemuda yang mampu menjaga dirinya, yang ia yakin mampu menjadi imamnya dan memuluskan jalan hidupnya meraih surga Allah.


Proses pengenalan yang bersih menjadikan ia sangat yakin bahwa kisah cintanya ini akan berujung bahagia. Suatu ketika, datanglah sang pemuda berserta keluarganya untuk meminang si gadis. Hal yang tak pernah terbayangkan sedikitpun, ayahnya menolak mentah-mentah pinangan itu. Yang membuat hatinya pilu, selain karena penolakan yang dilakukan ayahnya, juga karena ia telah menyakiti hati ayahnya. Seumur hidupnya, baru pertama kali ia melihat sang Ayah menangis tersedu-sedu lalu masuk ke dalam kamar. Seumur hidupnya, baru pertama kali ia melihat air mata ayahnya! Ayah yang selama ini kuat dan tegar, ternyata menangis!

Suasana menjadi tegang. Hari yang seharusnya menjadi hari yang bahagia itu ternyata menorehkan luka untuk sang ayah. Sosok yang begitu ia hormati, begitu ia cintai. Gadis itu hanya bisa menangis. Pemuda dan keuarganya pun pulang dengan sejuta perasaan kecewa.

Hari-hari selanjutnya menjadi semakin berat. Sang gadis tetap berusaha memperjuangkan sang pemuda. Pemuda yang begitu ia dambakan selama ini, yang menikah dengannya merupakan impiannya selama ini. Sang Ayah pun memilih diam. Hubungan ayah dan anak itu pun menjadi tak baik. Seringkali sang gadis berbicara dengan nada keras agar ayahnya bersedia menerima pemuda itu. “Mengapa Ayah sanggup berbuat seperti ini pada saya? Ayah suka melihat saya menderita?” Beribu ucapan yang keluar dari mulut sang gadis, namun sang Ayah tetap pada pendiriannya. Hari-hari sang gadis dilalui dengan deraian air mata. Bahkan ia sampai jatuh sakit keranaa kisah cintanya tak kesampaian. Sang ibu turut menangis melihat keadaan sang anak. Semua menangis... Lukanya semakin sempurna ketika sang pemuda pada akhirnya menikah dengan gadis lain.

Ia sedih dan terluka kerana kisah cintanya hancur tapi ia lebih sedih lagi, ketika ia menyedari betapa ia telah membuat orang tuanya begitu terluka kerana sikapnya. Kerana perbuatannya ia telah membuat ayah ibunya terus menangis.

Malam itu, dengan bersimbah air mata, ia bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. Memohon maaf atas perbuatannya yang menorehkan luka kedua manusia yang telah tua renta itu. Gadis itu meraih tangan ibu dan ayahnya. Menciumi tangan tua itu berulang kali dengan air mata yang tak pernah berhenti. Tangan itulah yang telah memapahnya ketika ia mulai belajar berjalan, menyuapi makanan untuknya, tangan itulah yang membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang sampai ia menjadi ia yang sekarang. Seorang gadis cantik dan berpendidikan. Ia dekap erat tubuh ayah ibunya. Tubuh itulah yang membanting tulang menghidupinya, tubuh yang telah menjaga dan melindunginya selama ini.

Ia meminta ampun pada kedua orang tuanya. Tersengal-sengal dengan suara tak jelas, ”Maafkan saya.. maafkan atas tingkah saya, perbuatan saya, ucapan saya.. maafkan saya.. maafkan saya menyakiti hati ibu dan ayah ..”

sang gadis pun kemudian memaham . setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya.  Memang orang tua tak selamanya benar, tapi bukan bererti seorang anak boleh melukai hati orang tua. Mereka telah mengharungi lebih banyak perjalanan hidup dibandingkan anak. Seorang ayah tentu akan sangat berhati-hati memberikan anak yang sejak kecil begitu disayanginya sepenuh hati bahkan rela mengorbankan jiwa dan raga untuk kebahagiaan si buah hati pada orang asing yang akan menggantikan perananya untuk menjadi imam bagi anaknya itu.

Keredhaan ALLAH bergantung pada keredhaan orang tua. Kemurkaan ALLAH bergantung pada kemurkaan kedua orang tua. Pada akhirnya kalimat itulah yang melekat di dalam hati sang gadis. Sejak hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membuat setitis pun air mata kesedihan jatuh di pipi kedua manusia yang paling ia cintai di muka bumi ini. Peristiwa kelmarin menjadi pelajaran berharga untuknya dan membuatkan sang gadis itu untuk lebih berbakti pada kedua orang tuanya. Imam An-Nawawi menjelaskan berbakti kepada orang tua adalah dengan cara bersikap baik pada keduanya, melakukan hal yang dapat membuat mereka bergembira serta berbuat baik pada teman-teman mereka. Ya, ia bertekad melakukan hal itu.

Waktulah yang menyembuhkan segala. Semua terasa sulit pada awalnya... namun ternyata ia boleh mnghadapi semuanya. dan sang gadis pun kini tersenyum sebab ia akan menikah dengan lelaki yang ia sukai dan yang terpenting... yang orang tua nya merestui hubungan itu. Gadis itu bahagia, orang tua nya bahagia, keluarganya bahagia, semuanya bahagia..

Senja di ujung langit mengiringi taman hati yang harum semerbak. Pepohonan dan dedaunan melambai seperti bunga-bunga cinta yang sedang menari-nari pada kisah cinta anak manusia. Semilir angin membuat jilbab gadis itu mengayun indah… seindah kisah cintanya yang berujung bahagia… dan barakah... insyaALLAH..

No comments:

Post a Comment